Parapat (SIB)
Para petani di Sumatera Utara kini mulai menyadari bahwa haminjon (kemenyan) benar-benar dapat dibudidayakan dan hasilnya bisa lebih baik dari haminjon alam di hutan, kata seorang peneliti senior Rabu (11/4).

Peneliti tersebut, Ir Sentot Adi Sasmuko, mengemukakan kesimpulan tersebut setelah tampil sebagai pembicara ahli pada sebuah pertemuan di Pollung, salah satu kecamatan yang kaya hutan haminjon di kabupaten Humbang Hasudutan, Selasa (10/4). Pertemuan itu digagas oleh sebuah tim pimpinan Kepala Dinas Kehutanan Humbang Hasundutan, Ir Darwin Lumbangaol.

Hadir pada pertemuan itu Camat Pollung Rich Simamora, para Kepala Desa Sipituhuta (A Lumbangaol), Pandumaan, Aeknauli-1, Aeknauli-2, Hutapaung, Pancurbatu (Esron Lumban-Batu), Hutajulu (P Lumbangaol) Ria-ria, Ketua Kontak-Tani setempat Jannus Lumbanbatu serta wakil dari Polsek dan Koramil setempat. Juga hadir beberapa staf senior TPL (PT Toba Pulp Lestari, Tbk) Tagor Manik, Lesdiner Hasibuan dan Pahotton Lumbangaol.

Pertemuan itu sendiri berkaitan dengan hal ihwal haminjon termasuk bagaimana cara meningkatkan produktivitasnya dan Sentot dari BPK (Balai Penelitian Kehutanan) Aeknauli serta seorang staf peneliti lainnya, Gunawan Pasaribu, tampil sebagai narasumber.

TEKNOLOGI BUDIDAYA
Sentot berbicara mengenai teknologi budidaya di tengah para petani yang selama ini tidak percaya haminjon dapat dibudidayakan dan bahkan hasilnya berupa getah bisa diperoleh lebih banyak dan dengan mutu lebih baik dibandingkan dengan haminjon alam di hutan. Haminjon dengan aromanya yang khas dicari para industriawan dunia untuk dijadikan bahan baku industri farmasi, parfum dan juga rokok.

Ada teknologi budidaya haminjon. Teknologi itu buah dari penelitian. BPK Aeknauli sendiri sudah melakukan percobaan budidaya. Hasilnya bagus dan sangat menjanjikan. Pada usia sekitar 7 tahun mulai bisa disadap (ditakir), hasilnya 1 ons per sekali panen. Pada usia 10 tahun meningkat menjadi 0,5 kg per sekali panen dan pada usia 20 tahun bisa mencapai 1 kg per sekali panen. Panen dapat dilakukan dua kali setahun, kata Sentot mengutip uraiannya di Pollung.

Sumatera Utara, kata Sentot dalam berbagai kesempatan, merupakan produsen haminjon terkemuka di Indonesia. Luas tanamannya sekitar 22 ribu hektar dengan produksi sekitar 4.000 ton per tahun. Sebagian besar haminjon itu adalah haminjon alam yang tersebar di hutan Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.

Dengan asumsi setiap batang haminjon hasil budidaya dapat menghasilkan 2 kg per tahun, dan setiap hektar dapat ditanami 200 batang, maka produktivitas kebun haminjon dapat mencapai 400 kg per hektar. Apabila gerakan haminjonisasi dapat mencapai luas 200 ribu hektar saja, maka potensi produksi per tahun mencapai 80 ribu ton per tahun.

Angka tersebut merupakan sebuah lompatan, meski masih kalah hebat dari Laos salah satu negeri penghasil haminjon penting dunia yang mampu menghasilkan 50 ribu ton haminjon setiap tahun dari kebun hanya seluas 50 ribu hektar. Laos mampu menghasilkan 1 ton getah dari setiap hektar kebun haminjon.

Kunci peningkatan produksi hanya satu. Kita mesti segera lakukan budidaya massal. Ini salah satu kekuatan Sumut, kata Sentot.

Di Pollung, Sentot mencatat satu hal penting sebagai hasil tatap mukanya dengan para petani, yakni petani-untuk pertama kali-mulai menyadari bahwa haminjon dapat dibudidayakan dan bahkan peningkatan produksi dan mutu hanya dapat dicapai melalui budidaya, bukan dengan mengandalkan haminjon hutan.

Begitu antusiasnya para petani, sampai-sampai mereka spontan ingin menyaksikan sendiri kebun percobaan BPK Aeknauli serta kebun pembibitan untuk mendapatkan bibit-bibit unggul.
Ia lebih gembira lagi karena antusiasme itu muncul bersamaan dengan kepeloporan industri pulp Porsea membudidayakan haminjon di areal konsesinya yang tidak bakal terkena penebangann di hutan Tele, Humbang Hasundutan. Tahun lalu TPL menanam 30 ribu batang dan tahun ini merencanakan tambahan 50 ribu batang.

Sentot menilai haminjon cocok dikembangkan untuk hutan rakyat, hutan reboisasi dan hutan penghijauan. Ia bahkan pernah melontarkan ide HTI-Haminjon, karena kayu-kayu haminjon berkualitas baik sehingga pada masa re-planting pada usia 20 tahun kayunya cocok dijadikan kayu pertukangan dan bahkan bahan baku pulp dan kertas. (Rel/A11/y)

Sumber: http://hariansib.com/2007/04/12/petani-mulai-menyadari-haminjon-dapat-dibudidayakan/