Tradisi batu yang pernah berkembang di Batak Toba mengalami pergeseran fungsi dan nilai. Sebagian masyarakat masih melakukan ritual budaya terkait dengan batu untuk mengatasi persoalan hidupnya. Ratusan tahun silam tradisi batu tersebut berkembang sebagai bagian dari tradisi.

”Sekarang sudah tidak ada lagi orang membuat batu untuk keperluan tradisi. Namun, batu kuno peninggalan sejarah masih dijaga untuk kepentingan lain, salah satunya,” kata cicit dari Sisingamangaraja ke-12, Raja Tonggo Tua Sinembela, Kamis (17/7), pada akhir acara ”Save the Tao”.

Tonggo mengatakan, tradisi batu yang masih tersisa di Batak Toba salah satunya ada di daerah Sagala, Kabupaten Samosir. Di daerah itu, warga masih melakukan ritual di Batu Hobon yang dinilai sebagai batu peninggalan Raja Uti (cucu pertama Raja Batak). Raja Uti pernah menyimpan sesuatu di batu ini yang kini belum pernah diketahui isinya.

Masyarakat tidak pernah bisa membukanya. Masyarakat masih melakukan ritual dengan meminta pertolongan kepada Batu Hobonatas terhadap persoalan yang dihadapinya. Raja Uti juga disebut sebagai perantara berkah bagi orang Batak.

Ritual batu juga masih berkembang di Bakkara, Kecamatan Bakti Raja, Kabupaten Humbang Hasundutan. Di tempat tersebut, ada batu terkenal bernama Siungkap-ungkapon. Batu yang berbentuk mirip sumur tersebut ada sejak Sisingamangaraja memerintah.

”Sekarang masyarakat masih memberikan sesembahan di batu tersebut. Mereka berharap keberuntungan pada batu itu dengan doa-doa,” katanya. Tonggo mengakui, adanya pergeseran menganggap batu zaman sekarang. Contohnya, kata Tonggo, batu Siungkap-ungkapon dipakai untuk berperang. Batu itu bisa menghancurkan kekuatan lawan secara magis.

Dia mengatakan, banyak tradisi batu yang sudah lama mati. Kini tidak ada lagi orang Batak yang membuat sarkofagus (wadah kubur dari batu) secara kreatif.

”Tradisi mengolah batu untuk kepentingan sehari-hari tidak berkembang lagi. Padahal, di Danau Toba banyak menyimpan aneka batu bagus,” katanya.

Peneliti Balai Arkeologi Medan, Taufikurrahman Setiawan, mengatakan, secara umum batu kuno bernilai sejarah masih terjaga baik. (NDY)

Sumber: http://www.kompas.com/read/xml/2008/07/19/01024431/tradisi.batu.mengalami.pergeseran